Lynx berdiri dengan tenang, tubuhnya berlumuran debu, tetapi tidak ada satu pun luka yang terlihat. Matanya masih tetap tertutup, dia berdiri dengan tenang seolah tidak merasakan apa yang telah terjadi. Wajahnya hanya memperlihatkan ketenangan yang terasa dingin dirasakan oleh para pasukan Monrest, seperti badai yang sedang menunggu saat yang tepat untuk meledak.

"Mustahil... bagaimana kau bisa bertahan?!" Leluhur Monrest berteriak marah, tetapi dalam suaranya mulai terdengar nada keraguan. Untuk pertama kalinya, ia merasa ancaman nyata dari sosok yang seharusnya sudah tidak memiliki kekuatan apa pun.

Tiba-tiba di kejauhan, suara raungan menggema di udara, begitu keras hingga membuat semua orang berhenti bergerak. Raungan itu terdengar mengerikan, hampir seperti raungan monster dari mimpi terburuk. Leena, yang masih terikat di tiang, langsung menegang. Matanya membelalak, dan napasnya memburu. "Naga... apakah naga itu bangkit?" pikirnya, tubuhnya bergetar.

Lala, yang juga mengetahui cerita tentang naga dari Lynx dan Leena segera mengenali suara itu, langsung menoleh ke arah para penduduk. "Kalian...Kalian dengar suara itu, kan? Mahluk itu bangkit," katanya dengan nada cemas.

Semua penduduk yang mendengar pertanyaan Lala menganggukkan kepala. Tetua Widhi mendekati Lala,"Katakan Lala! Mahluk apa yang kamu maksudkan? Apa kamu mengetahui sesuatu tentang suara itu?" tanyanya dengan cemas.

"Iya Lala, Ceritakan jika kamu mengetahuinya." Kata Rira sambil memegang bahu Lala.

"Aku...Aku juga baru mengetahuinya, Sesaat sebelum leluhur Monrest menyerang kita, Lynx dan Leena menceritakan kepadaku, bahwa mereka menemukan alasan kenapa leluhur kalian melarang kalian semua ke wilayah barat." Kata Lala memulai ceritanya.

"Apa itu Lala? Cepat ceritakan." desak Rira.

Lala melihat semua penduduk Surya menunggu ceritanya,"Naga. Lynx dan Lala menemukan mahluk menyerupai Naga yang sangat besar di bawah gunung dibelakang kampung kita."

"Naga? Bagaimana mungkin ada naga ditempat ini? Kenapa kita tidak pernah mendengarnya?" Kata salah satu penduduk.

"Tenanglah. Apapun alasannya, pasti kepala suku memiliki alasan kuat kenapa tidak menceritakannya kepada kita. Sekarang kita harus berdoa untuk kemenangan kepala suku kita." kata tetua Maret dengan bijaksana.

"Lala, lanjutkan ceritamu! Kenapa naga itu muncul sekarang?" tanya lagi tetua Rasyid dengan wajah khawatir.

"Naga itu terhubung dengan segel yang mengurungnya. Kemungkinan segel itu rusak dan ada hubungannya dengan batu meteor yang mendadak hilang." kata Lala gugup.

Para penduduk semakin cemas dengan fakta yang mereka dengar. Leluhur Monrest menjadi ancaman yang belum terselesaikan dan kini ada satu lagi ancaman yang sama bahkan lebih besar lagi.

Leena mengangguk pelan meyakinkan dirinya sendiri, matanya masih tertuju ke arah suara tadi. "Itu... itu pasti naga itu. Aku yakin," bisiknya, tubuhnya semakin gemetar.

Leluhur Monrest yang melayang di udara juga mendengar suara tersebut. Ekspresi angkuhnya berubah menjadi tegang. "Tidak mungkin... naga itu masih tersegel. Atau jangan-jangan segelnya melemah setelah batu meteor hancur?Apakah selama ini artefak itu menyerap energi dari meteor ini juga?" pikirnya penuh kekhawatiran. Namun, dia segera mengalihkan perhatiannya kembali kepada Lynx yang masih berdiri dengan tenang di tengah kawah.

"Dasar bocah tak berguna! Ini semua kesalahanmu." Monrest melampiaskan kemarahannya. Dengan kecepatan luar biasa, ia melesat turun, tinjunya mengarah langsung ke tubuh Lynx. Energi yang begitu besar terpancar dari pukulan itu, menciptakan angin badai yang menghempaskan tanah dan bebatuan di sekitarnya. Ledakan besar mengguncang pulau, menciptakan tekanan yang cukup untuk menghancurkan benua.

Namun, ketika debu dan asap perlahan menghilang, Lynx masih berdiri dengan tenang di tempatnya. Tanah di sekitarnya hancur lebur, tetapi lingkup ledakan itu terasa aneh, seperti terhisap sesuatu yang tak terlihat sehingga radius dampak dari pukulannya terlihat di sekitar mereka saja. Tubuh Lynx tidak bergeming sedikit pun, hanya pakaiannya yang tersisa robek-robek, meninggalkan celana panjangnya.

Mata Leluhur Monrest memerah oleh kemarahan. "Apa-apaan ini?! Apa yang kau lakukan?! Apa kau menghisap inti batu meteor itu?!" teriaknya, mencoba memahami apa yang terjadi. Tapi tidak ada jawaban dari Lynx.

"Kalau begitu, aku akan menggunakan ini," gumam Leluhur Monrest sambil mengalirkan energinya ke cincin penyimpanan. Dan dari cincin itu muncullah sebuah pedang besar yang memancarkan aura gelap. Pedang itu adalah senjata andalannya yang digunakan untuk melawan musuh yang dianggapnya layak, dan selama ini senjata itu di simpankan oleh keturunan Monrest lalu diaktifkan kembali setelah dia bangkit.

Setelah dia mengambil cincin penyimpanan Lynx dan melihat belum ada kunci segel kepemilikan diberikan oleh Lynx ke cincin itu, Leluhur monrest segera membuat segel kepemilikan sehingga selama pemilik masih hidup, cincin itu tidak akan bisa digunakan oleh orang lain, kecuali dibuka paksa oleh seseorang yang memiliki kekuatan jauh diatasnya. Leluhur Monrest bahkan menertawakan Lynx karena tidak mengetahui cara mengunci cincin tersebut.

Setelah membuat segel kepemilikan, Leluhur Monrest segera menyimpan senjata dan semua benda berharga yang ditemukannya di perkampungan Monrest dengan tujuan akan dibawanya ke dimensi lain setelah ritual, Namun kenyataannya berkata lain.

Setelah mengeluarkan pedangnya, dengan teriakan marah, Leluhur Monrest mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, mengarah ke tubuh Lynx. Bilah itu menghantam Lynx langsung, menghasilkan percikan energi yang memancar ke segala arah. Namun, tubuh Lynx tetap tidak terluka. Yang hancur hanyalah sisa pakaiannya, menyisakan hanya celana panjang yang sobek di beberapa bagian. Dan Lynx sendiri tetap memejamkan matanya.

Leluhur Monrest terdiam sejenak, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Apa-apaan kau?! Aku yakin pedangku menyentuh tubuhmu. Namun bahkan pedangku tidak bisa melukaimu?!" teriaknya penuh frustrasi.

Dengan teriakan marah, dia mengeluarkan lagi kekuatannya dan menyerang Lynx menggunakan pedang dan berbagai kekuatan elemen yang dimilikinya. Namun semua serangan yang digunakannya tidak mampu menggores tubuh Lynx, bahkan jurus elemen kegelapan yang dimilikinya, menghilang seolah terserap oleh tubuh Lynx.

Melihat leluhur Monrest terlihat kesulitan menghadapi Lynx, Ruvan, salah satu pemimpin wilayah terkuat pasukan Monrest dan orang yang paling dipercaya Damon, merasa ini adalah kesempatan untuk menghentikan Lynx dengan cara lain. Dengan licik, dia berlari mendekati Leena, yang masih terikat di tiang. Pedang rampasan dari Kael saat menangkapnya kini ada di tangannya dan diarahkan langsung ke leher Leena.

"Lihat ini, anak bodoh!" teriak Ruvan, menekan ujung pedangnya ke kulit Leena. "Kalau kau tidak menyerah sekarang juga, aku akan menghabisi nyawa gadis ini!"

Lynx tetap diam, tidak menunjukkan reaksi apa pun. Mata semua orang tertuju kepadanya, menunggu bagaimana ia akan merespons ancaman itu.

"Ha! Kau takut, ya?!" Ruvan tertawa keras, mengira Lynx tidak berani melawan. "Aku akan membunuhnya di depan matamu jika kau tidak membuka matamu dan sujud untuk menyerah!"

Lynx terlihat tetap diam tidak ada merespon, matanya tetap terpejam, seolah tidak terpengaruh dengan ancaman yang diberikan.

"Bagus Ruvan, kamu cerdas. Tidak percuma aku memiliki keturunan sepertimu yang cerdas." puji leluhur Monrest melihat cara licik Ruvan.

"Cepat katakan, apa rahasiamu? dimana inti batu meteor itu?" bentak leluhur Monrest dengan penuh amarah kepada Lynx.

Ruvan tertawa lebih keras. "Lihatlah! Dia tidak berani melawan! Ini akhir—"

Namun, sebelum Ruvan menyelesaikan kata-katanya, tubuhnya tiba-tiba membeku. Dua titik kecil gosong muncul di dahinya, tepat di tengah-tengahnya. Tanpa sempat berteriak, tubuh Ruvan roboh ke tanah, tak bernyawa.

Keributan langsung pecah. Pasukan Monrest yang menyaksikan itu menjadi panik, saling bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi. Tidak ada yang melihat serangan apa pun dari Lynx.

Leena, yang nyaris menjadi korban, menatap tubuh Ruvan dengan bingung. "Apa yang barusan terjadi?" gumamnya, matanya mencari jawaban di wajah Lynx.

Mereka melihat Lynx sudah membuka matanya, tidak ada emosi yang terpancar darinya. Pandangannya dingin, penuh ketenangan yang mengintimidasi, membuat semua orang di sekitarnya merasa terancam tanpa tahu mengapa. Leluhur Monrest menatap Lynx dengan kemarahan bercampur kebingungan, tidak percaya bahwa pria muda itu masih berdiri di sana, tidak hanya utuh, tetapi juga tak tersentuh.

Lynx memejamkan matanya kembali, membiarkan pikirannya tenggelam dalam sensasi aneh yang kini memenuhi tubuhnya.

